Tahapan Produksi Mata Siaran Televisi

Tahapan Produksi Mata Siaran Televisi

Pra Produksi (Pre Production)

Pengalaman saya (penulis, red) yang tergabung dalam tim produksi Cineraya Pranadipta, salah satu divisi produksi kreatif di stasiun televisi nasional Lativi tahun 2003-2004. Lativi membagi beberapa divisi dalam mengisi mata acara televisi. Divisi News & Ca (Current Affair) menjadi tumpuan utama sebagai divisi yang memproduksi tayangan berita. Tayangan berita televisi yang diproduksi saat itu Lativi Pagi, Lativi Siang, Lativi Sore, Dialog dan lain-lain. Divisi Produksi Lativi memproduksi tayangan Dangdut, Wanita-wanita (program dialog tentang wanita) dan lainnya. Sedangkan divisi Cineraya Paradipta, yang dipimpin oleh Slamet Raharjo Djarot, Maestro Film Indonesia. Memproduksi sinema elektronik (sinetron), Talkshow, Asmarandana, Desah Malam. Tim inti produksi Cineraya yang hanya berjumlah tujuh orang ini pun memproduksi tayangan Infotainment Paparazi dan program mahasiswa Almamater.

Sebelum memproduksi sebuah mata acara yang dilaksanakan di luar studio (out door) atau dalam studio (in dor), tim produksi haruslah memiliki tempat atau kantor sebagai base camp. Semua Treatment atau skenario dan usulan nama program hingga proses produksi dilakukan dalam rapat di kantor yang terdapat di lingkungan Lativi.

Usulan biasanya didiskusikan semua tim produksi, usulan dalam bentuk proposal diserahkan oleh produser atau penggagas mata acara kepada Eksekutif Produser. Lalu proses presentasi dan diskusi serta fokus utama tujuan sebuah acara harus disampaikan. Presentasi dilaksanakan agar produksi yang diproduksi mempunyai acuan dan standar operasional prosedur (SOP) . Naratama Sutaradara mata acara televisi menulis, Dalam mengekplorasi berbagai ide kreatif yang dapat tertuang dan diproduksi secara apik. Menganalisis target penonton, jam tayang, posisi stasiun televisi, dan studi komparasi terhadap kompetitor acara di stasiun televisi lain.

Ada hal menarik, dalam setiap presentasi mata acara, para produser selalu ditanya goal yang akan dicapai tetang program yang dibuat. Slamet Raharjo menuntut, efek apa yang akan didapatkan, setelah penonton menyaksikan tayangan kita buat. Tidak hanya itu, tujuan utama kita memunculkan tematik harus dijelaskan pula. Bobot atau kekuatan tema yang diproduksi pada divisi Cineraya Lativi, lebih diutamakan. Bahkan tidak mempersoalkan berapa banyak yang akan menonton. Seperti contoh tema tentang isu pribumi dan non pribumi bagi ethnis Tionghoa dijadikan tema utama dalam tayangan infotainment paparazzi. Padahal jelas biasanya infotainment menyangkut gossip selebritis hingga kawin – cerainya. Namun Slamet mangangkat tema yang ke luar dari isu infotainment pada umunya yang seragam di tiap stasiun televisi.
Persiapan Pra Produksi di antaranya mempersiapkan tim di luar tim inti yang akan menunjang produksi. Diantaranya mempersiapkan Desain Produksi. Pengertian desain produksi adalah sebuah rancangan produksi yag dipersiapkan untuk memproduksi sebuah mata acara. Tidak berbeda jauh dengan film, desain produksi siaran televisi setidaknya harus memperhatian hal-hal sebagai berkut ;

1. Jenis mata acara apa yang akan diproduksi ?
2. Naskah ini punya siapa ?
3. Menggunkan format video apa ?
4. Bagaimana memulai Shooting ?
5. Seluk beluk anggaran.
6. Dari mana dananya ?
7. Mempersiapkan crew.
8. Menyusun tim produksi.
9. Mempersiapkan pemeran atau pengisi acara.

Perkembangan yang terjadi di dunia pertelevisian kian kemari adalah kegiatan kreativitas yang sudah tidak menentu. Orientasi laba tujuan utama pemilik modal secara ekonomi, regulasi pemerintah yang kunjung menuai polemik tetang penyiaran, serta lembaga kontrol yang memang tak berdaya. Harus dilawan dengan tayangan yang berkualitas. Menuntut kecerdasan sang kreator televisi dalam memproduksi mata acara televisi. Kini kreator televisi dituntut lebih dapat menggali pelbagai tayangan yang harus mencerdasarkan penonton. Baik hiburan maupun berita.

Sunardian Wirodono dalam buku berjudul Matikan TV-Mu berpandangan, Berbagai bentuk materi siaran, apalagi yang berjenis hiburan seperti sinetron, kuis, infotainment, atau reality show sering lepas dari norma-norma kepatutan sebuah karya kreatif, yang semestinya juga harus bertanggung jawab pada tumbuhnya eksplorasi masyarakatnya. Munculnya berbagai kritik dan keluhan sebagian masyarakat mengenai kualitas tayangan program televisi di Indonesia menunjukan hal itu dengan jelas. Misal, banyak sinetron yang bukan saja rendah kualitas tematik, setting sosial, serta miskin dalam pendalaman materi. Apalagi, rendahnya kreativitas pihak produser itu bergabung dengan rendahnya sensibilitas pihak pengelola televisi. Kedua hal tersebut menjadi faktor yang paling berpengaruh terhadap rendahnya kreativitas pekerja kreatif.

This entry was posted on Monday, March 1st, 2010 at 2:01 am and is filed under Produksi Komunikasi. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply